Senin, 26 Oktober 2009

Prasasti Ukir Negara

Prasasti Tinulad Ukir Negara ditemukan oleh pekerja perkebunan Komplek Ukir Negara dan diserahkan oleh administrasi perkebunan tersebut yaitu bapak M.S. soewandhi di kebun milik Komplek Ukir Negara di Desa Sirah Kencong, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Lempengan-lempengan ini ditemukan bersama-sama sebuah guci bercuping 4. Prasasti Ukir Negara terdiri dari 8 lempeng tembaga, yang dibagi menjadi 3 bagian, beraksara dan berbahasa Jawa Kuno. Adapun 10 lempengan yang belum bertuliskan

Prasasti pertama (Prasasti Ukir Negara I) terdiri satu lempeng berukuran panjang 36,2 cm, dan lebar 11 cm, bertuliskan pada kedua sisi. Sisi depan berisi lima baris dan sisi belakang 3 baris (Suhadi, M & Richandiana. K, 1996: 8-9).

Transkripsi:

1. A. Sisi depan

//0// wruhanekań amupu tuturan. sawarnnaniń amupu tuturan iń ańarĕmba. pańalasan. parambi

kĕl. mantrĭ. huņdahagi. yen andika nińoŋ. denekań ańaramba hiŋ dewa rĕşi si samasanak iŋ mariñchī

irehane luputa riŋ tuturan. sakalawiraniŋ tuturan titisara saki dalem. luputiŋ. padadah. pa

tatar. pawiwaha. pasahaŋ. pabata. palantara. pakamas. papińgan. pawrĕpi. papañjalan. para

wuhan. Susukan. Luputa riŋ bletepe sakiń uņdahagi luputa riŋ jajalukan. tundan la

1. A. Sisi belakang

wan dene kakayune rehaniŋ tan kana garaha. tan ana hamĕrańa. hanuta polahe sajīwajīwa. ayo

hińuwahan. kaŋ rājamūdra lamun uwus den waca kagugona dene kań ańarĕmba riŋ dewa rĕşi. si sa

masanak iŋ mariñchī. tithi. ka. 4. sirah. 4 //0//


Terjemahan (Issatriadi, 1975: 6-7) :

1. A. Sisi depan

1. //0// hendaklah supaya diketahui. (oleh) yang memungut pajak persepuluhan. (adapun) mereka yang memungut pajak persepuluhan kepada yang berkewajiban (ialah). pangalasan. parambi-

2. kel. mantri. hundahagi. perintahku ini. berhubungan dengan yang berkewajiban kepada dewa rsi (yaitu) keluarga marinci.

3. karenanya (mereka) supaya dibebaskan dari pajak persepuluhan. segala macam pajak persepuluhan itu (berupa) pajak-pajak (titisara) (yaitu) bebas dari. Pajak mengurut pada saat adanya suatu kelahiran (padadah). Pa-

4. tatar (pajak bagi penimbunan kayu baker untuk pembakaran mayat. Pajak pada saat melangsungkan perkawinan (pawiwaha). pajak ladang (pasahaŋ). pajak bata (pabata). pajak usungan untuk membakar mayat (palantara). pajak pembuatan perhiasan dari emas (pakamas). pajak pembuatan piring pinggan (papińgan). pawrĕpi. pajak penjalin (papañjalin). para-

5. wuhan (pajak bagi para tamu yang berpangkat. susukan (pajak perbatasan). Bebas pajak pembuatan anyaman daun kelapa (bletepe) dari undahagi. Supaya bebas dari permintaan (sangu). pajak perantara (tundan). la-

1. A. Sisi belakang

1. wan (beserta) dengan kayu-kayunya oleh karenanya tidak dikenakan tugas untuk menyediakan diri (garaha). tak ada yang menantang (hamĕrańa). hendaklah supaya patuh (pada) kewajiban masing-masing.

2. (hińuwahan) jangan dirubah. keputusan perintah raja (rājamūdra) dan bila telah dibaca hendaklah supaya dipercayakan (disimpan) oleh yang berkewajiban kepada dewa rsi. si sa-

3. masanak (keluarga) di Marinci. bulan ke 4. tahun 4. //0//

Jumat, 23 Oktober 2009

PAHATAN POT BUNGA TERATAI BERBINGKAI LENGKUNGAN SEEKOR RUSA.

Pahatan ini terbuat dari batu. Tingginya 75 cm, yang ditemukan di koleksi Kabupaten Blitar. Terdiri dari bingkai jambangan atau pot bunga teratai dengan lengkungan seekor rusa, pahatan tersebut dipahatakan di atas alas bunga teratai. Bentuk bunga teratai ini tidak teratur. Dari sudut pandang simbolisme pahatan ini merupakan relief pembebasan yang sangat mengandung sutu pelajaran. Dalam kasus yang sama jambangan atau pot adalah suatu pengganti untuk akar bunga teratai. Sebagian dari tangkai bungai teratai agak naik sebelah dari jambangan tersebut, sebagai ganti dari mulut nya. Lebih dari itu jambangan dilingkari oleh suatu rantai besar seolah-olah adalah sesuatu pot berperut gendut memakai suatu rantai petapa. Ini akan nampak untuk menunjuk arah relief pembebasan yang mewakili beberapa urutan waktu atau teka-teki bergambar sebagai tambahan dalam arti simbolis. (Bernet Kempres, 1959).

candi Plumbangan

Candi Plumbangan terletak di perkampungan Desa Plumbangan, Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Bangunan pintu gerbang paduraksa Plumbangan dan benda-benda lainnya terpelihara dengan baik, diatur dengan rapi, bersih dan indah. Bangunan dan benda-benda tersebut terbuat dari batu andesit (basalt). Bangunan ini dikelilingi dengan pagar kawat berduri oleh karena itu keamanannya tidak mengkhawatirkan. Pintu gerbang paduraksa dan benda-benda purbakala berada di atas tanah kurang lebih 250 km². Bagian barat dibatasi oleh jalan kampung, bagian utara berbatasan dengan pekarangan penduduk, bagian timur oleh perkarangan penduduk, sedangkan bagian selatan berbatasan dengan jalan desa.

Selain bangunan pintu gerbang, terdapat sejumlah benda bersejarah misalnya: prasasti, tiga buah yoni, sebuah arca surya, sebuah arca Durgamahisasyuramardhini, sebuah arca Budhha, beberapa jaladrawa, pancuran air, keystone, balustrade, dua arca nandi, dan batu kendang, serta beberapa umpak..Prasasti Plumbangan (Panumbangan) berdiri di atas bunga teratai dengan lancana Candra Kapala. Prasasti ini dibuat atas suruhan raja Bameswara pada tahun l042 Saka atau 1120 M. Prasasti ini berukuran t.inggi seluruhnya 176 cm, lebar 92 cm, tebal atas.19,5, tebal bawah 26 cm, tinggi bunga teratai 12 cm, lingkaran bunga teratai 267 cm.











Prasasti Panumbangan


Di bagian selatan terdapat sebuah yoni yang besar dan diukir sangat indah sekali. Yoni ini tinggi 92 cm, panjang dan lebar sisinya ± 95 cm. Tempat lingga menancap berkedalaman 74 cm, panjang dan lebar sisi lubang 22 cm. Ukiran pada yoni ini berupa macan/harimau, yang menyangga curat. Pada curatnya diukir dengan motif makara atau gajah mino. Di kanan kiri lubang curat bagian bawah diukirkan rangkaian ratna. Yoni ini sebagai lanbang dari Parwati sakti dari Siva yang memiilki sifat-sifat f eminin. Baik. Pada bagian kaki, badan dan.bagian atas yoni ukiran yang dominan adalah pelipit-pelipit garis dan sebagian ojief.


Yoni

Peninggalan di halaman pertama yang lain, adalah batu pipisan, umpak berbentuk persegi , umpak. berbentuk kuncup bunga. Di halaman ini juga ditemukan jambangan dan umpak dalam bentuk yang lain. Bagian kedua adalah pintu gerbang Paduraksa yang atap atau kemuncaknya berbentuk kubus. Pintu gerbang ini juga memiliki sayap di kanan-kirinya. Pada bagian ambang pintunya terdapat monogram 1312 Caka atau 1390 M. Pintu gerbang candi Plumbangan berukuran 5,50 meter. Candi tersebut telah dipugar pada tahun 1921. Candi Plumbangan pada masa lalu dikenal dengan nama Desa Panumbangan sebagai itu suatu tempat Budha. Atap pintu gerbang dibuat secara khusus, hiasan bangunan sudut tembok dan lapisan di atas dikeraskan, denah lantai dasar bangunan dari tiap lapisan berbentuk segi empat dengan sisi cekung sebagai ganti lurus, dibawah puncak candi lebih luas daripada luas di bawahnya. Dalam cara ini arsiteknya telah berhasil menciptakan suatu efek keringanan dan kerapian. Seperti juga pintu gerbangnya sebelah kanan-kirinya dibuat ukiran seperti sayap-sayap. Di jaman kemudiann pintu gerbang nampak seperti seekor burung yang sangat besar (Kempres, 1959: 97-98). Candi Plumbangan sebenarnya adalah nama yang kurang tepat tetapi lazim digunakan oleh masyarakat. Seharusnya bukan candi, melainkan pintu gerbang paduraksa Plumbangan.

Pintu Gerbang Paduraksa


Candra sengkala (angka tahun)

Di halaman dua terdapat sebuah arca surya yang duduk dengan sifat padmasana di atas kereta yang di tarik dengan tuiuh buah ekor. Pada arca ini kedua buah lengannya sudah hilang, tinggal kedua tapak tangannya yang masih menempel pada kedua pahanya. Diatas tapak tangan yang menunjukkan sikap Waradahasta di atasnya di tempatkan benda bulat. Tinggi arca ini 107 cm.

Arca Durgamahisasyuramardhini yang berdiri di atas Nandi atau Mahesa dengan sikap ekapadatasnaka. Arca ini berlengan delapan (hastabuya). Tinggi arca 74 cm, lebar 47 cm dan tebalnya 20 cm, Dua buah tangannya bagian depan sebagai tangan manusiawi dan enam buah tangan bagian belakang merupakan tangan kedewataan. Tangan manusiawi bagian kanan memegang rambut dari raksasa yang bernama Asyura dan tangan kirinya memegang ekor dari mahesa. Keenam tangan kedewataannya memegang semua alat-alat pemberian para dewa yang sering kali menunjukkan atribut dari semua dewa yang memberi senjata tersebut. Benda peninggalan lainnya adalah potongan kaki arca yang tidak diketahui dan identitasnya, arca Budhha, jaladrawa dengan ukiran motif makara. Sebuah ambang pintu yang bertuliskan huruf kwadrat dengan ukuran panjang 165 cm, lebar 57 cm dengan tebal 17,5 cm. Di sebelah barat ambang pintu ini terdaapat dua buah arca nandi yang berkalungkan beberapa genta (Sukamto : 1-2).